Anggota Eco Club Baru bergabung dengan Kampanye Bali Indah, Menjaga Bali Tetap Indah.

Mengenakan baju kaos Eco Club SMAN 1 Banjarangkan yang baru.
Mengenakan baju kaos Eco Club SMAN 1 Banjarangkan yang baru.

Tiga puluh siswa sekolah menengah atas dari SMAN 1 Banjarangkan, Bali melakukan perjalanan ke lapangan pada hari senin untuk menginspirasi mereka untuk menjadikan pendidik tentang lingkungan di sekolah mereka. Sebagai Eco Club SMAN 1 Banjarangkan, hal tersebut akan menjadi tugas mereka untuk mengoperasikan program daur ulang sekolah dan mendidik sesama siswa mereka tentang pentingnya melakukan daur ulang.

Memisahkan sampah plastic di Bali Recycling
Memisahkan sampah plastic di Bali Recycling
Oliver menjelaskan bagaimana Bali Recycling mengubah sampah plastic menjadi suatu produk.
Oliver menjelaskan bagaimana Bali Recycling mengubah sampah plastic menjadi suatu produk.
Kadek Donal memberikan suatu kehormatan kepada manager Bali Recycling menjadi salah satu anggota Eco Club.
Kadek Donal memberikan suatu kehormatan kepada manager Bali Recycling menjadi salah satu anggota Eco Club.

Hal ini sangat memotivasi dan siswa-siswa yang pintar tersebut pertama kali akan berkunjung menuju Bali Recycling di Mas dimana Oliver Pouillon menunjukan mereka bagaimana sampah plastic, kertas dan gelas mereka di daur ulang di sekolah mereka diubah menjadi produk-produk yang memiliki nilai jual. “membuang sampah plastiks sama halnya dnegan membuah-buang uang”, ujar Oliver. “ kami akan membayar sampah plastic tersebut dan melakukan pengolahan sampah plastic menjadi sebuah produk yang bisa kami jual,” ujarnya.

Sekalipun sepatu boots karet yang tua di daur ulang untuk pot di Rumah Kompos
Sekalipun sepatu boots karet yang tua di daur ulang untuk pot di Rumah Kompos
Supardi dari Rumah Kompos Padangtegal menunjukan kami bagaimana mereka membuat kompos
Supardi dari Rumah Kompos Padangtegal menunjukan kami bagaimana mereka membuat kompos

Pemberhentian terakhir kami adalah untuk bertemu Bapak Supardi dari Rumah Sampah Padangtegal. Beliau menunjukan kami sekeliling yang mana hal ini merupakan daur ulang ulan yang sangat efesien dan Pusat Rumah kompos ini bersebrangan dengan monkey forest Ubud. Beliau juga menjelaskan kepada kami tentang polusi plastic yang meracuni udara, air, binatang-binatang dan tentunya diri kita.

img_3445

Pada akhirnya waktunya untuk makan siang yang mana makanan enak dan chef yang menakjubkan menghidangkan makanan yang enak, dan kemudian mengajak kami untuk mengikuti kelas yoga yang dipimpin oleh Andrea dan Levi.

img_3455

Guru SMAN 1 Banjarangkan ikut dalam melakukan Yoga.
Guru SMAN 1 Banjarangkan ikut dalam melakukan Yoga.
Made Max, Iluh Everi dan Made Juni melakukan Meditasi.
Made Max, Iluh Everi dan Made Juni melakukan Meditasi.
Terima kasih Andrea, Levi dan Yoga Barn untuk akhir yang sangat Indah hari itu.
Terima kasih Andrea, Levi dan Yoga Barn untuk akhir yang sangat Indah hari itu.

Kemudian kembali ke Bus dan kembali kerumah masing-masing setelah menikmati pembelajaran yang sangat indah dan bergembira. !!!

Keep Bali Beautiful Logo
Keep Bali Beautiful Logo

Untuk informasi lebih lanjut atau jika anda ingin membantu Kampanye Bali Indah, tolong untuk mengisi form di bawah ini;

Wow, 1 Kg Sampah Plastik Bisa Hasilkan 1 Liter BBM

BADUNG – Sampah biasanya tidak berguna namun teknologi sederhana sampah plastik kini bisa diolah menjadi bahan bakar minyak sehingga bisa lebih bernilai.

Gonjang-ganjing rencana pemerintah menaikkan harga BBM tidak terlalu dipusingkan oleh Ida Bagus Ketut Atmaja, pengepul sampah plastik di Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Bali.

Pasalnya, dia memilik ide kreatif dengan mengolah sampah plastik menjadi BBM. Berkat ide kreatifnya, 1 kilogram sampah plastik bisa menghasilkan 1 liter BBM.

Ide itu muncul dari keprihatinan setelah melihat banyaknya tumpukan sampah di sekitar tempat tinggalnya. Setelah membaca literatur dan melakukan eksperimen, Ketut Atmaja akhirnya menemukan teknologi sederhana.
“Kalau sampah dibakar akan percuma, kenapa tidak disuling saja biar berguna,” cetusnya ditemui wartawan Minggu (14/9/2014).

Ini berdasarkan referensi ketika dia membaca artikel, termasuk keberhasilan Korea Selatan dalam mengubah sampah plastik menjadi BBM solar. Diapun bertekat bisa menciptakan sesuatu untuk mengubah sampah plastik agar bernilai lebih.

Dari eksperimennya, dia menciptakan mesin yang dirakitnya sendiri. Dibuatlah alat pembakaran dan penyulingan (reaktor firolisis).

Hasil rakitannya itu, dia bisa mengubah plastik berbagai jenis menjadi bahan bakar minyak. Hanya saja, baru sampah plastik dari tas kresek dan botol air kemasan diprioritaskan untuk proses daur ulangnya.
Dengan alat sederhana berupa tiga tabung disambungkan ke selang besi kemudian diproses. Setelah semua plastik dipilih atau dipisahkan, sampah dimasukkan ke dalam tabung dan dibakar dengan gas elpiji layaknya memasak sehari-hari.

“Saat pembakaran, akan mengeluarkan cairan bahan bakar kemudian ditampung dalam wadah botol,” tutur dia.
Untuk proses ini tidak butuh waktu terlalu lama, hanya sekira setengah jam. Setelah proses itu selesai, maka didapatkan satu kilogram plastik menghasilkan satu liter cairan bahan bakar.

Hasil sulingan itu belum menghasilkan jenis bahan bakar tertentu karena masih dicampur ada bensin. Dengan bahan cairan hasil olahan itu, sudah bisa menghasilkan cairan untuk membakar apa saja bahkan bisa dipakai untuk BBM sepeda motor.

Masih ada juga campuran solar atau minyak tanah. Ke depan dia akan mencoba bereksperimen lagi untuk menghasilkan energi yang lebih sempurna.
(kem)

original post at http://news.okezone.com/read/2014/09/14/340/1038907/wow-1-kg-sampah-plastik-bisa-hasilkan-1-liter-bbm

Berikut ini Tujuh Fakta Berbahaya dari Aktivitas Membakar Sampah

Pada umumnya, terutama sampah dari rumah dibakar secara serampangan. Kegiatan ini akan menghasilkan karbomonoksida (CO) yang bila terhirup manusia dapat mengganggu fungsi kerja hemoglobin (sel darah merah) yang semestinya mengangkut dan mengedarkan oksigen (O2) ke seluruh tubuh. Kekurangan O2 ini bisa menimbulkan kematian. Sebagai gambaran kasar, satu ton sampah yang dibakar akan berpotensi menghasilkan gas CO sebanyak 30 kg.

Asap dari pembakaran sampah plastik akan menghasilkan senyawa kimia dioksin atau zat yang bisa digunakan sebagai herbisida (racun tumbuhan). Selain itu, proses tersebut juga dapat menghasilkan fosgen atau gas beracun berbahaya yang pernah digunakan sebagai senjata pembunuh pada masa Perang Dunia pertama.

Hasil pembakaran sampah yang mengandung klorin dapat menghasilkan 75 jenis zat beracun lain.

Asap dari pembakaran sampah mengandung benzopirena (gas beracun penyerang jantung) sebanyak 350 kali. Zat ini ditengarai sebagai biang keladi penyebab kanker dan hidrokarbon berbahaya (seperti asam cuka) penyebab iritasi.

Membakar kayu juga dapat menghasilkan senyawa yang mengakibatkan kanker. Sedangkan melamin dapat menghasilkan formaldehida (formalin) bila dibakar dengan suplai oksigen yang banyak atau HCN (asam sianida) bila kurang oksigen.

Pembakaran sampah di area terbuka dapat menghasilkan partikel debu halus atau Particulate Matter (PM) yang mencapai level PM 10 (10 mikron). Dengan tingkatan tersebut, zat ini tidak dapat disaring oleh alat pernapasan manusia, sehingga bisa masuk ke paru-paru dan mengakibatkan gangguan pernapasan.

Pembakaran sampah dapat menyebabkan kabut asap yang tebal dan mengurangi jarak pandang dan kenyamanan di lingkungan tempat tinggal. Yang lebih parah, bisa memicu terjadinya kebakaran dengan skala lebih besar. Kita tentu masih ingat terjadinya kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan yang menyebabkan kapal laut menabrak tebing dan menghentikan aktivitas penerbangan komersial di beberapa bandara.

Penulis:
Supriyono,S.KM,M. Kes adalah Widyaiswara pada Bapelkes Batam, Kepulauan Riau.
Alamat kantor: Jln. Marina City, Kel. Tanjung Uncang, Kec. Batu Aji, Kota Batam. Beliau juga adalah Ketua Dewan Pimpinan Cabang Persatuan Ahli Gizi Indonesia, Lamongan, Jawa Timur.
Anda dapat menghubungi beliau melalui halaman kontak situs ini atau email : supriyonontr@yahoo.co.id.

Dibuang Sayang, Dipakai Tidak Bisa-Menghasilkan Uang dari Sampah

By Emily Young
BBC News

Originally post http://www.bbc.com/news/business-31036601?fb_ref=Default

Tom Szaky berbicara untuk 19 lusin lainnya. Seolah-olah dia tidak ingin menyia-nyiakan satu menit dari satu jam wawancara yang saya miliki dengannya.
Tapi kemudian, sampah adalah pokok bahasan yang menyentuh hatinya. Dia adalah pendiri dan kepala eksekutif dari perusahaan sosial TerraCycle, sebuah perusahaan yang memiliki tujuan untuk menghilangkan keberadaan sampah.

“ini adalah Ide yang besar saya tahu,” ujarnya, namun sejauh ini berjalan baik-baik saja.

Dalam 13 tahun, basis- AS Terracycle telah berkembang dari awal yang klasik menjalankan operasi bawah tanah di 21 negara. Tahun lalu pendapatannya mencapai $20m (Rp. 240 miliar) dan memiliki 115 karyawan.

Model Bisnis dari perusahaan ini yaitu mencari sampah dan mengubahnya menjadi sesuatu yang berguna, sebagai keuntungan. Mereka mengumpulkan segala hal yang pada umumnya diketahui sulit untuk di daur ulang- contohnya seperti putung rokok, kapsul kopi, atau pembungkus biscuit- dan mencari cara untuk menggunakan kembali bahan-bahan tersebut.

Quote
“Saya ingin menghasilkan banyak uang dengan melaukan hal yang baik” Tom Szaky

TerraCycle
Hal itu terlaksanakan terutama melalui proses pengolahan bahan-bahan yang mereka miliki dan menjual bahan tersebut ke pabrik, dan mengembangkan yang rendah dengan mengubahnya menjadi suatu produk-produk seperti tas, bangku ataupun tempat sampah.

Mereka mengandalkan kontrak dengan pebisnis- seperti McVities, Johnson & Johnson dan Kenco- yang mereka membayar TerraCYcle untuk membawa sampah mereka, layaknya seperti konsumen individual mereka mengumpulkan dan mengirimkannya, sebagai gantinya sebagai sumbangan donasi sebagai pilihan mereka.

Pengalaman Orang Hungaria
Dengan rambut berantakan, jeans dan baju lengan panjang, tom, 33 tahun, adalah ciri khas dari generasi pengusaha muda yang menghindari formaitas.

Namun dia melangkah satu tahap lebih lanjut- dia menggunakan jeans yang sama setiap hari dalam satu tahun (kecuali untuk akhir pekan ketika mereka dicuci) sebagai salah satu usaha untuk menggunakan lebih sedikit.

Lahir dalam komunitas Hungaria, Tom meninggalkan negaranya dengan kedua orang tuanya pada umur 4 tahun, dan berakhir di Canada, melalui Belanda, pada umur 10 tahun. Dia mengatakan bahwa keseluruhan model bisninya terlahir dari pengalaman yang ia miliki terhadap 2 sistem ekonomi yang berbeda.

Kantor Terracycle di AS menggunakan botol daur ulang sebagai dinding pembatas.
Kantor Terracycle di AS menggunakan botol daur ulang sebagai dinding pembatas.
Sebagian besar dari kantor memiliki wujud graffiti pada dinding bangunan.
Sebagian besar dari kantor memiliki wujud graffiti pada dinding bangunan.
Kantor Terracycle pada umumnya merupakan bagian yang kurang kaya dari kota.
Kantor Terracycle pada umumnya merupakan bagian yang kurang kaya dari kota.

“Dulu di Hungaria, anda memerlukan surat ijin untuk memiliki satu set TV,” Tom menjelaskan.

Anda tidak bisa pergi begitu saja dan membeli TV, malahan, setelah mengajukan surat ijin memiliki TV mungkin satu tahun kemudian kamu akan mendapatkan TV hitam putih, dan mendapatkan satu chanel resmi Negara.

Tom mengatakan: “hanya beberapa tahun kemudian kami berakhir di kanada yang mana setiap hari jumat ayahku dan aku akan berkeliling dan melihat tumpukan TV menggunung yang telah dibuang dari setiap apartemen.

“kamu mengambil beberapa hanya untuk bersenang-senang- karena kami berfikir ‘siapa yang mau membuang TV?’ dan semuanya masih berfungsi dan semuanya berwarna!”

kemudian, dia menambahkan, menjadikan dirinya berfikir tentang konsep dari limbah. Pada saat yang bersamaan, dia sangat terkesan dan terinspirasi oleh seorang pengusaha yang ia temui di Canada (keluarga temannya), dan dia memutuskan untuk ingin menjalankan sebuah bisnis.

Perkembangan Keuntungan
Terracycle telah berdiri dari tahun 2002 setelah Tom, 19 thn, dikeluarkan dari Princenton University di New Jersey untuk membangun ide yang ia miliki- hal tersebut sangat mengecewakan orang tuanya, yang sangat mempercayai bahwa begitu pentingnya pendidikan Tom.

“ya, (hal tersebut) salah satu momen ketika seorang anak memberitahukan orang tuanya bahwa ini adalah Hidup sata, dan saya berharap dapat melakukannya seperti yang saya inginkan. Suatu momen terobosan pada saat itu,” ia mengakui.

Produk pertama yang TerraCycle buat adalah pupuk organic yang dibuat dari “kotoran cacing” dalam waktu 5 tahun, perusahaannya dapat menjual sekitar $3m sampai $4m (sekitar Rp. 36 miliar sampai $48 miliar), tetapi membuat kerugian. Pada saat itu Kemudian Tom menyadari bahwa pendekatannya telah salah.

Perusahaan yang bekerja sama dengan TerraCycle
Perusahaan yang bekerja sama dengan TerraCycle

Kemudian Tom menyadari bahwa pendekatannya telah salah.
“kami mencoba hal baru dengan membuat sebuah produk dan kemudian menemukan type terbaik dari sampah untuk membuatnya.

“setelah lima tahun bergelut dalam dunia bisnis kami secara total memutar segalanya,” ujarnya. “ sebelum memulai pertanyaan tentang produk, kami berkata ayo kita mulai dengan sampah… kami perlu mengatasi kantong biscuit, putung rokok dan sebagainya.”

Tanpa realisasi tersebut, dia menghitung bahwa Terracycle tidak akan pernah mendapatkan keuntungan. Dan perusahaannya mempercayai pada keuntungan.

“ banyak dari pengusaha muda yang berfikir anda bisa melakukan sesuatu yang baik bagi dunia dan tidak mendapatkan apapun, atau anda bisa melakukan sesuatu yang negative dan dapat menghasilkan banyak uang.
“saya tidak memilih keudanya—saya ingin menghasilkan banyak uang dengan melakukan hal yang baik.
“Orang-orang juga termotivasi oleh dirinya sendiri. jika saya menjual perusahaan ini saya akan menghasilkan jutaan dan itulah motivasi manusia.

“saya sangat menginginkan untuk mejalankan kehidupan saya dengan cara ini, tapi faktanya saya bisa mendapatkan puluhan dari jutaan—itu adalah positive, saya tidak akan mengatakan bahwa saya merasa tidak enak tentang itu.”

Fakta TerraCycle

Didirikan di US pada tahun 2002
Diresmikan di UK pada tahun 2009
Telah mencegah 2,5 miliar potongan sampah yang menuju TPA
Menyumbang lebih dari $6m (sekitar Rp. 72miliar) untuk amal dan sekolah.
Menghasilkan uang dari perusahaan daur ulang sampah, dan menjualnya kepada pabrik-pabrik.
Dan juga menawarkan untuk memberikan sumbangan ketika konsumen secara individu mengirimkan barang-barang daur ulang.
Putung rokok yang dikumpulkan diubah menjadi palet plastic.

Tom menyebut perusahaan sosialnya sebagai sebuah pertemuan dari komunisme dan kapitalis. Sebagai kepala eksekutif, dia hanya dapat menghasilkan 7x dari gaji terendah karyawannya. ( “7X” seperti yang ia jelaskan) Dan segala hal tentang bisnisnya secara penuh bersifat transparan, dia mengatakan, jadi, setiap karyawan mendapatkan laporan yang sama seperti yang ia dapatkan dalam perkembangan perusahaan.

TerraCycle menyediakan tempat sampah lokal untuk daur ulang.
TerraCycle menyediakan tempat sampah lokal untuk daur ulang.

Perusahaan ini memiliki rencana terbuka, dan biasanya berdasarkan kepada bagian yang termurah dari kota—Di US salah satu nya berpusat di Trenton, New Jersey, dan di UK berpusat di Perivale, London bagian Barat.

Sebagai salah satu bagian dari pengembangan perusahaan kreatif, ia bahkan memiliki salah satu reality show di TV—sebuah kutipan yang menampilkan produser meminta Tom apakah dia bisa “berhenti berbicara dalam gigitan suara”. Dia bukan apa apa jika dia tidak baik dalam PR.

Tantangan kedepannya bagi TerraCyle, dia menyatakan yang paling utama adalah menjaga perusahaan besar tetap bergabung.

“ ini tentang organisasi yang mempertahankan keinginan mereka disekitar ini (TerraCycle recycling) program, karena setiap orang ingin hal baru selanjutnya,” kata tom.
Sebagai salah satu konsumen individual yang mengirimkan barang untuk di daur ulang, dia menunjukan bahwa mereka tidak mendapatkan apa apa secara nyata sebgai imabalan dari pelayanan mereka.
“anda membeli perasaan yang baik – jadi itu merupakan produk pelayanan yang sulit untuk dijual. Ada keterbatasan fisik untuk membayar kembali. Ini tidak sama seperti membeli kopi atau tas ransel. Kamu menjual sesuatu yang esoteric.”

Esoterik itu mungkin, tetapi investor banyak yang tertarik – tom sedang dalam pembicaran untuk menjual saham sebesar 20% dengan perusahaan inggris yang tidak disebutkan namanya sekitar $20m ( Rp. 240miliar)

Perkembangan gerakan Bye Bye Plastic Bag

Isabel dan Melati dari Bye Bye Plastic Bag bersama Ketua Eco Club Klungkung Gita dan Reny, Komang dari Universitas Udayana, Puji dari Keep Bali Beautiful dan Lucas dari DASH
Isabel dan Melati dari Bye Bye Plastic Bag bersama Ketua Eco Club Klungkung Gita dan Reny, Komang dari Universitas Udayana, Puji dari Keep Bali Beautiful dan Lucas dari DASH

Anak-anak Bye Bye Plastic Bag (BBPB) menjalankan sebuah organisasi dengan misi yang sangat besar yaitu melarang kantong plastic di Bali yang dilaksanakan dengan berkoalisi bersama lebih dari 100 organisasi (termasuk Keep Bali Beautiful) dan secara individual membantu usaha yang mereka lakukan pada saat pertemuan minggu lalu.

Bye Bye Plastic Bag Logo
Bye Bye Plastic Bag Logo

Koalisasi BBPB akan memfokuskan kepada Pendidikan sekolah, Bisnis dan Desa di seluruh pulau tentang permasalahan kantong plastic dan penyebab polusi lainnya bagi masyarakat Bali, dan apa yang mereka dapat lakukan untuk memperbaiki hal tersebut.

Saat di pertemuan koalisi BBPB
Saat di pertemuan koalisi BBPB

Mereka akan mengadakan sebuah kampanye, memberikan penghargaan kepada pebisnis yang berjanji untuk bebas dari plastic, menyebarkan pesan mereka kepada media pemberitaan dan melanjutkan kampanye mereka untuk mendapatkan satu juta tandatangan untuk melarang kantong plastic.

Jika anda ingin untuk menandatangani petisi untuk menjadikan Bali terbebas dari kantong plastik, silahkan klik disini. Atau jika anda ingin menjadi relawan untuk bergabung dalam kampanye untuk Keep Bali Beautiful silahkan klik disini.

Keep Bali Beautiful Logo
Keep Bali Beautiful Logo

Indonesia : Daur Ulang untuk Jaminan Kesehatan Gratis

Jaminan kesehatan untuk 250 juta penduduk Indonesia tergolong sangat mahal.

Tetapi, sebuah inisiatif baru dari seorang dokter muda terbukti menjadi terkenal di kalangan masyarakat yang berpenghasilan rendah.

Penduduk perlu mengumpulkan sampah Non-Organic, yang dijual untuk di daur ulang, atau limbah organic, yang akan diubah menjadi pupuk, sebagai gantinya adalah pelayanan kesehatan secara gratis di beberapa klinik.

Uang yang diterima akan menuju ke “dana kesehatan”

“Bisnis kami memiliki tujuan untuk menciptakan dampak sosial. Kami tidak mencari keuntungan dari hal ini. Uang yang dihasilkan dipastikan digunakan untuk program yang berkelanjutan”, penjelasan dari Dr. Gamal Albinsaid, 25 tahun pendiri dari “Garbage Clinical Programme” (Program Sampah Klinis)

Para Pegawai telah mengunjungi desa-desa di Provinsi Jawa Timur.

Pada saat ini sudah ada 500 penduduk yang berpartisipasi dalam inisiatif ini, yang telah berjalan semenjak bulan Maret lalu.

Sebagian besar penduduk Indonesia hidup dengan pendapatan kurang dari 2 dollar per-hari sama dengan Rp. 20,000.

Original post on http://www.euronews.com/2014/12/27/indonesia-recycling-for-free-healthcare/#.VJ7zAOTesoY.facebook

 

 

Anggota Eco Club Klungkung Bertemu dengan Tim Bye Bye Plastic Bag

Originally posted on Pak Dave In Bali:

Bye Bye Plastic Bag Logo
Bye Bye Plastic Bag Logo

Ketua Eco-Club SMAN 1 Dawan dan SMAN 1 Semarapura berpergian ke Kuta hari ini dan mereka terinspirasi oleh tim Bye Bye Plastic Bag, sekelompok remaja sekolah menengah yang sangat mengagumkan, tujuan mereka tiada lain adalah melarang penggunaan kantong plastic di Bali.

Bye Bye Plastic Bag member dan Eco Club Member
Bye Bye Plastic Bag member dan Eco Club Member

Strategi yang mereka lakukan sangatlah berani sama halnya dengan tujuan mereka. Mereka sedang dalam proses untuk mengumpulkan SATU JUTA TANDA TANGAN dalam petisi mereka untuk melarang penggunaan kantong plastic di Bali. Jika mereka mencapai tujuan mereka, Gubernur Bali Made Mangku Pastika telah menyetujui untuk menetapkan larangan tersebut. Jika anda tertarik untuk menandatangani petisi mereka, Silahkah klik disini.

Ketua Eco Club SMAN 1 Dawan
Ketua Eco Club SMAN 1 Dawan

Ketua Eco Club kami dan kelompok Bye Bye Plastic Bag berencana untuk bekerja sama mengatasi permasalahan polusi plastic di Bali. Berdiri sebagai seorang yang dewasa. Memperhatikan anak-anak ini bergerak, tidak ada yang perlu saya ragukan…