Desa Tangkas melayani lebih dari 1,000 orang untuk Program Daur Ulang Sampah

Mengubah sampah menjadi kompos

Lebih dari 1,000 orang di Desa Tangkas telah membantu Keep Bali Beautiful dengan cara bergabung dalam program daur ulang di Tempat Pembuangan Sementara (TPS) berlokasi di Desa Tangkas. Didirikan oleh Ketut Darmawan pada tahun 2016, TPS telah didukung oleh masing-masing warga desa dengan membayar Rp. 15,000 ($1.07 USD) selama sebulan untuk pengambilan sampah setiap dua hari sekali. Sampah tersebut kemudian dikirim ke TPS untuk dipilah yang mana 93% dari sampah itu di daur ulang maupun di ubah menjadi kompos. Sebagian besar dari sampah organic diubah menjadi pupuk kompos. Sisanya 7% yang tidak bisa di daur ulang dibuang.

Berdasarkan Pak Darmawan, “ Saya sangat gembira karena lebih dari 300 keluarga telah mendaftarkan diri merka untuk pengangkutan sampah dan program daur ulang. Sebelum program ini ada, setiap warga terpaksa untuk membuang sampah mereka ke sungai atau membakarnya”

Program ini telah mendapatkan pujian dari Bupati Klungkung yang menyarankan desa lainnya untuk mengadopsi program ini.

Perkenalkan Wayan – Manager Eco Club Kami

Alone we can do so little, together we can do so much” – Hellen Keller

Semua akan baik baik saja apabila semua orang dapat menunjukkan keterlibatannya dalam menjaga Bali dalam kehidupan sehari-harinya  dan berbagi pengetahuan tentang daur ulang mereka kepada orang-orang di sekitar mereka.

 

———————————————————MORE——————————————————-

Perkenalkan WAYAN – Manager Eco Club Kami

 “Halo semuanya, nama saya Wayan Kawenuh. Saya tinggal di Bali. Saya mencintai pulau ini. Saat ini Sampah telah menjadi masalah besar di tanah kami ini. Banyak orang yang membuang sampah sembarangan setelah mereka mengkonsumsi makanan maupun minuman mereka. Seringkali saya melihat orang orang tidak membuang sampah mereka pada tempat pembuangan sampah atau tempat sampah di tempat umum – mereka melempar sampah mereka sesuka hati mereka.

Suatu hari saya bertemu dengan orang Amerika yang sangat peduli tentang Bali, dan ingin membantu kami untuk menciptakan Bali bersih kembali. Nama beliau adalah Dave M Fogarty. Beliau memulai dengan mengajarkan teman teman saya untuk memisahkan sampah plastic maupun organic. Kami memisahkan sampah kami menjadi empat kriteria yaitu organic, plastic, gelas dan metal.

Ketika saya menjadi president Eco Club saya masih di kelas duabelas. Ceritanya berawal pada saat Pak Dave menanyakan saya tentang bagaimana sekolah saya mengelola sampahnya. Saya memberitahukan kepada beliau tentang realitas yang terjadi di sekolah saya. Beliau memberikan saya solusi yaitu dengan melakukan salah satu program yang dapat membantu menyelesaikan masalah sampah di sekolah saya. Pada saat itu saya merasa bahagia dan saya pun berdiskusi dengan kepala sekolah saya. Beliau pun menyetujui program tersebut dan kemudian saya membuat tim kecil yang kemudian dikenal dengan tim ECO Club. Kepala sekolah sayapun menunjuk saya menjadi Ketua team. Awalnya, saya menghadapi banyak kesulitan untuk menemukan anggota dan kami memutuskan untuk merekrut teman dekat kami dari kelas sepuluh, sebelas dan duabelas. Pada akhirnya kami dapat mengumpulkan 25 siswa kedalam tim kami.

Saat ini kami memiliki program yaitu: mengajarkan teman kami bagaimana caranya untuk memisahkan sampah (kami menyediakan 3 tempah sampah), mengumpulkan sampah dan membawanya ke rumah sampah. Teman Pak Dave dari Ubud membantu kami dan membantu kami untuk membangunnya. Setiap anggota dari Eco Club diharuskan untuk mengajarkan saudaranya untuk mendaur ulang sampah di rumahnya. Berbagi pengetahuan kepada mereka disekeliling kita adalah salah satu langkah pertama untuk menjada keindahan alam ini. Kami juga bekerja sama dengan sistem manajemen sampah di Mas, Ubud, Bali. Mereka membantu mengangkut sampah dari sekolah kami setiap bulannya.

Kesempatan ini sangatlah berharga bagi saya, karena  untuk pertama kalinya saya dapat belajar menjadi seorang pemimpin untuk grup kecil yang terlibat dalam bidang penyelamatan lingkungan. Dan selama saya menjadi ketua ECO Club  saya menjadi lebih menghargai lingkungan dimana saya tinggal dan belajar. Saya berharap program ini dapat membantu Bali kedepannya. Terima kasih semuanya”

Wayan

 

Anggota Eco Club Baru bergabung dengan Kampanye Bali Indah, Menjaga Bali Tetap Indah.

Mengenakan baju kaos Eco Club SMAN 1 Banjarangkan yang baru.
Mengenakan baju kaos Eco Club SMAN 1 Banjarangkan yang baru.

Tiga puluh siswa sekolah menengah atas dari SMAN 1 Banjarangkan, Bali melakukan perjalanan ke lapangan pada hari senin untuk menginspirasi mereka untuk menjadikan pendidik tentang lingkungan di sekolah mereka. Sebagai Eco Club SMAN 1 Banjarangkan, hal tersebut akan menjadi tugas mereka untuk mengoperasikan program daur ulang sekolah dan mendidik sesama siswa mereka tentang pentingnya melakukan daur ulang.

Memisahkan sampah plastic di Bali Recycling
Memisahkan sampah plastic di Bali Recycling
Oliver menjelaskan bagaimana Bali Recycling mengubah sampah plastic menjadi suatu produk.
Oliver menjelaskan bagaimana Bali Recycling mengubah sampah plastic menjadi suatu produk.
Kadek Donal memberikan suatu kehormatan kepada manager Bali Recycling menjadi salah satu anggota Eco Club.
Kadek Donal memberikan suatu kehormatan kepada manager Bali Recycling menjadi salah satu anggota Eco Club.

Hal ini sangat memotivasi dan siswa-siswa yang pintar tersebut pertama kali akan berkunjung menuju Bali Recycling di Mas dimana Oliver Pouillon menunjukan mereka bagaimana sampah plastic, kertas dan gelas mereka di daur ulang di sekolah mereka diubah menjadi produk-produk yang memiliki nilai jual. “membuang sampah plastiks sama halnya dnegan membuah-buang uang”, ujar Oliver. “ kami akan membayar sampah plastic tersebut dan melakukan pengolahan sampah plastic menjadi sebuah produk yang bisa kami jual,” ujarnya.

Sekalipun sepatu boots karet yang tua di daur ulang untuk pot di Rumah Kompos
Sekalipun sepatu boots karet yang tua di daur ulang untuk pot di Rumah Kompos
Supardi dari Rumah Kompos Padangtegal menunjukan kami bagaimana mereka membuat kompos
Supardi dari Rumah Kompos Padangtegal menunjukan kami bagaimana mereka membuat kompos

Pemberhentian terakhir kami adalah untuk bertemu Bapak Supardi dari Rumah Sampah Padangtegal. Beliau menunjukan kami sekeliling yang mana hal ini merupakan daur ulang ulan yang sangat efesien dan Pusat Rumah kompos ini bersebrangan dengan monkey forest Ubud. Beliau juga menjelaskan kepada kami tentang polusi plastic yang meracuni udara, air, binatang-binatang dan tentunya diri kita.

img_3445

Pada akhirnya waktunya untuk makan siang yang mana makanan enak dan chef yang menakjubkan menghidangkan makanan yang enak, dan kemudian mengajak kami untuk mengikuti kelas yoga yang dipimpin oleh Andrea dan Levi.

img_3455

Guru SMAN 1 Banjarangkan ikut dalam melakukan Yoga.
Guru SMAN 1 Banjarangkan ikut dalam melakukan Yoga.
Made Max, Iluh Everi dan Made Juni melakukan Meditasi.
Made Max, Iluh Everi dan Made Juni melakukan Meditasi.
Terima kasih Andrea, Levi dan Yoga Barn untuk akhir yang sangat Indah hari itu.
Terima kasih Andrea, Levi dan Yoga Barn untuk akhir yang sangat Indah hari itu.

Kemudian kembali ke Bus dan kembali kerumah masing-masing setelah menikmati pembelajaran yang sangat indah dan bergembira. !!!

Keep Bali Beautiful Logo
Keep Bali Beautiful Logo

Untuk informasi lebih lanjut atau jika anda ingin membantu Kampanye Bali Indah, tolong untuk mengisi form di bawah ini;

Riset: 8 Juta ton Sampah Plastik ke Laut tiap Tahun

plastics Solusi meredam peredaran sampah plastik ialah menghentikan pemakaian barang plastik sekali pakai. Sekitar delapan juta ton sampah plastik beredar di lautan dunia setiap tahun, menurut riset yang dikemukakan pada pertemuan tahunan American Association for the Advancement of Science (AAAS).

Dr Jenna Jembeck, kepala tim ilmuwan dari Universitas Georgia, AS, berupaya mengetahui seberapa banyak sampah plastik yang beredar di lautan dunia dengan mengumpulkan data internasional mengenai populasi, sampah yang dihasilkan, tata kelola sampah, dan kesalahan dalam mengelola sampah.

Dari data-data tersebut, Jembeck dan rekan-rekannya menciptakan beberapa model skenario untuk mengestimasi kemungkinan jumlah plastik yang masuk ke laut. Untuk tahun 2010, misalnya, jumlah sampah diperkirakan mencapai 4,8 hingga 12,7 juta ton. Batas bawah yang ditetapkan sebesar 4,8 juta ton itu kurang lebih sama dengan jumlah ikan tuna yang ditangkap di seluruh dunia.

“Kita seperti mengambil ikan tuna dan menggantikannya dengan plastik,” komentar salah satu peserta studi Kara Lavender Law dari Sea Education Assocation di Woods Hole.

Dari kisaran 4,8 juta ton hingga 12,7 juta ton, para ilmuwan menetapkan 8 juta ton sebagai perkiraan rata-rata. Jumlah itu hanyalah sekian persen dari total sampah plastik yang dihasilkan penduduk dunia setiap tahun.

“Kuantitas sampah plastik yang ditemukan di laut sama dengan sekitar lima kantong belanja berisi plastik untuk setiap meter garis pantai di dunia,” kata Jembeck kepada BBC.

Produksi sampah Dalam kajian yang juga diterbitkan Science Magazine tersebut, para peneliti telah membuat daftar negara-negara yang punya andil atas sampah plastik di lautan. Sebanyak 20 negara teratas dalam daftar bertanggung jawab atas 83% dari semua sampah yang berujung di lautan.

Cina, yang menghasilkan lebih dari satu juta ton sampah di laut, bertengger pada posisi puncak daftar tersebut. Posisi Cina itu, menurut para peneliti, merupakan konsekuensi dari jumlah penduduk Cina yang banyak dan sebagian besar tinggal di sepanjang garis pantai.

Demikian juga Amerika Serikat yang masuk 20 besar dalam daftar itu. Kendati AS memiliki pengelolaan sampah yang lebih baik, volume sampah yang dihasilkan oleh masing-masing individu di sana luar biasa banyak.

the views Jumlah sampah plastik sama dengan lima kantong belanja berisi plastik untuk setiap meter garis pantai dunia. Solusi Sebagai solusi, Dr Jembeck dan rekan-rekannya mengimbau kepada negara-negara kaya agar mengurangi konsumsi barang-barang plastik sekali pakai, seperti tas belanja.

Adapun negara-negara berkembang harus meningkatkan praktik pengelolaan limbah mereka. Hal ini terbukti dari daftar yang termasuk beberapa negara-negara yang sedang berkembang pesat dan memiliki pendapatan menegah yang sedang mengalami kesulitan akut.

“Saat ini pertumbuhan ekonomi memang positif, namun yang sering Anda lihat di negara-negara berkembang adalah infrastruktur pengelolaan sampah dikesampingkan. Dan memang demikian karena mereka lebih peduli pada mendapatkan air minum bersih dan meningkatkan sanitasi.

“Namun dari perspektif limbah, saya tidak ingin mereka melupakan masalah pengelolaan ini karena bila dilupakan hanya akan bertambah buruk,” kata Dr Jembeck.

Studi ini menunjukkan bahwa bila sampah plastik dibiarkan, 17,5 juta ton plastik per tahun dapat memasuki lautan pada 2025. Bila jumlah sampah plastik diakumulasikan dari tahun ini sampai 2025 , sedikitnya 155 juta ton plastik akan beredar di lautan.

Salah satu peneliti lain, Roland Geyer dari University of California di Santa Barbara, mengatakan membersihkan lautan dari sampah plastik sangatlah tidak mungkin.

“Menghentikan membuang sampah ke laut dari awal merupakan satu-satunya solusi. Bagaimana mungkin Anda membersihkan plastik di dasar laut yang rata-rata kedalamannya mencapai 4.200 meter?”

original post at http://www.bbc.co.uk/indonesia/majalah/2015/02/150213_iptek_sampah_laut

Wow, 1 Kg Sampah Plastik Bisa Hasilkan 1 Liter BBM

BADUNG – Sampah biasanya tidak berguna namun teknologi sederhana sampah plastik kini bisa diolah menjadi bahan bakar minyak sehingga bisa lebih bernilai.

Gonjang-ganjing rencana pemerintah menaikkan harga BBM tidak terlalu dipusingkan oleh Ida Bagus Ketut Atmaja, pengepul sampah plastik di Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Bali.

Pasalnya, dia memilik ide kreatif dengan mengolah sampah plastik menjadi BBM. Berkat ide kreatifnya, 1 kilogram sampah plastik bisa menghasilkan 1 liter BBM.

Ide itu muncul dari keprihatinan setelah melihat banyaknya tumpukan sampah di sekitar tempat tinggalnya. Setelah membaca literatur dan melakukan eksperimen, Ketut Atmaja akhirnya menemukan teknologi sederhana.
“Kalau sampah dibakar akan percuma, kenapa tidak disuling saja biar berguna,” cetusnya ditemui wartawan Minggu (14/9/2014).

Ini berdasarkan referensi ketika dia membaca artikel, termasuk keberhasilan Korea Selatan dalam mengubah sampah plastik menjadi BBM solar. Diapun bertekat bisa menciptakan sesuatu untuk mengubah sampah plastik agar bernilai lebih.

Dari eksperimennya, dia menciptakan mesin yang dirakitnya sendiri. Dibuatlah alat pembakaran dan penyulingan (reaktor firolisis).

Hasil rakitannya itu, dia bisa mengubah plastik berbagai jenis menjadi bahan bakar minyak. Hanya saja, baru sampah plastik dari tas kresek dan botol air kemasan diprioritaskan untuk proses daur ulangnya.
Dengan alat sederhana berupa tiga tabung disambungkan ke selang besi kemudian diproses. Setelah semua plastik dipilih atau dipisahkan, sampah dimasukkan ke dalam tabung dan dibakar dengan gas elpiji layaknya memasak sehari-hari.

“Saat pembakaran, akan mengeluarkan cairan bahan bakar kemudian ditampung dalam wadah botol,” tutur dia.
Untuk proses ini tidak butuh waktu terlalu lama, hanya sekira setengah jam. Setelah proses itu selesai, maka didapatkan satu kilogram plastik menghasilkan satu liter cairan bahan bakar.

Hasil sulingan itu belum menghasilkan jenis bahan bakar tertentu karena masih dicampur ada bensin. Dengan bahan cairan hasil olahan itu, sudah bisa menghasilkan cairan untuk membakar apa saja bahkan bisa dipakai untuk BBM sepeda motor.

Masih ada juga campuran solar atau minyak tanah. Ke depan dia akan mencoba bereksperimen lagi untuk menghasilkan energi yang lebih sempurna.
(kem)

original post at http://news.okezone.com/read/2014/09/14/340/1038907/wow-1-kg-sampah-plastik-bisa-hasilkan-1-liter-bbm

Berikut ini Tujuh Fakta Berbahaya dari Aktivitas Membakar Sampah

Pada umumnya, terutama sampah dari rumah dibakar secara serampangan. Kegiatan ini akan menghasilkan karbomonoksida (CO) yang bila terhirup manusia dapat mengganggu fungsi kerja hemoglobin (sel darah merah) yang semestinya mengangkut dan mengedarkan oksigen (O2) ke seluruh tubuh. Kekurangan O2 ini bisa menimbulkan kematian. Sebagai gambaran kasar, satu ton sampah yang dibakar akan berpotensi menghasilkan gas CO sebanyak 30 kg.

Asap dari pembakaran sampah plastik akan menghasilkan senyawa kimia dioksin atau zat yang bisa digunakan sebagai herbisida (racun tumbuhan). Selain itu, proses tersebut juga dapat menghasilkan fosgen atau gas beracun berbahaya yang pernah digunakan sebagai senjata pembunuh pada masa Perang Dunia pertama.

Hasil pembakaran sampah yang mengandung klorin dapat menghasilkan 75 jenis zat beracun lain.

Asap dari pembakaran sampah mengandung benzopirena (gas beracun penyerang jantung) sebanyak 350 kali. Zat ini ditengarai sebagai biang keladi penyebab kanker dan hidrokarbon berbahaya (seperti asam cuka) penyebab iritasi.

Membakar kayu juga dapat menghasilkan senyawa yang mengakibatkan kanker. Sedangkan melamin dapat menghasilkan formaldehida (formalin) bila dibakar dengan suplai oksigen yang banyak atau HCN (asam sianida) bila kurang oksigen.

Pembakaran sampah di area terbuka dapat menghasilkan partikel debu halus atau Particulate Matter (PM) yang mencapai level PM 10 (10 mikron). Dengan tingkatan tersebut, zat ini tidak dapat disaring oleh alat pernapasan manusia, sehingga bisa masuk ke paru-paru dan mengakibatkan gangguan pernapasan.

Pembakaran sampah dapat menyebabkan kabut asap yang tebal dan mengurangi jarak pandang dan kenyamanan di lingkungan tempat tinggal. Yang lebih parah, bisa memicu terjadinya kebakaran dengan skala lebih besar. Kita tentu masih ingat terjadinya kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan yang menyebabkan kapal laut menabrak tebing dan menghentikan aktivitas penerbangan komersial di beberapa bandara.

Penulis:
Supriyono,S.KM,M. Kes adalah Widyaiswara pada Bapelkes Batam, Kepulauan Riau.
Alamat kantor: Jln. Marina City, Kel. Tanjung Uncang, Kec. Batu Aji, Kota Batam. Beliau juga adalah Ketua Dewan Pimpinan Cabang Persatuan Ahli Gizi Indonesia, Lamongan, Jawa Timur.
Anda dapat menghubungi beliau melalui halaman kontak situs ini atau email : supriyonontr@yahoo.co.id.

PRESIDEN DAN GUBERNUR, BUATKAN PERATURAN DIET KANTONG PLASTIK!

Original Post on https://www.change.org/p/presiden-jokowi-do2-dan-gubernur-basuki-btp-buatkan-peraturan-diet-kantong-plastik-pay4plastic?recruiter=35786871&utm_source=share_petition&utm_medium=facebook&utm_campaign=autopublish&utm_term=des-lg-action_alert-no_msg

Diet Kantong Plastik
Diet Kantong Plastik
Jakarta Selatan, Indonesia
Rahyang Nusantara Jakarta Selatan, Indonesia

 

Indonesia memiliki masalah serius dengan sampah. Jumlah sampah yang dihasilkan setiap hari di ibukota saja bisa mencapai 6,000 ton dan tumpukannya bisa sebesar 30,000 meter kubik – lebih dari setengah ukuran candi Borobudur.
Rata-rata pemakaian kantong plastik per orang di Indonesia adalah 700 lembar per tahun. Sampah kantong plastik saja di Indonesia mencapai 4000 ton per hari atau sama dengan 16 pesawat Boeing 747, sehingga sekitar 100 milyar kantong plastik terkonsumsi per tahunnya di Indonesia. Produksi kantong plastik tersebut menghabiskan 12 juta barel minyak bumi yang tak bisa diperbaharui, yang setara dengan 11 Triliun Rupiah.

Banyak dari sampah kantong plastik tidak sampai ke tempat pembuangan sampah dan hanya sedikit yang akhirnya dapat didaur ulang. Akibatnya sampah kantong plastik tersebut berakhir di tempat-tempat ini: sungai, saluran air got dan drainase, pantai, bahkan laut dan tempat-tempat yang menyumbat saluran air. Kantong plastik baru dapat terurai 500-1000 tahun lagi, dan akhirnya mendekam selamanya di sungai, laut, dan di dalam tanah. Inilah salah satu penyebab nyata banjir yang melumpuhkan beberapa daerah di Indonesia.

Sampah kantong plastik memiliki konsekuensi lingkungan yang sangat mahal, tetapi ironisnya kantong plastik diberikan secara gratis oleh pedagang!
Karena gratis, perlu usaha yang lebih dari sekadar kesadaran diri konsumen untuk melakukan diet kantong plastik. Supermarket dan mall merupakan penyumbang terbesar kantong plastik dan memiliki posisi yang kuat untuk mendorong konsumen mengubah kebiasaan. Memberikan harga pada setiap kantong plastik, memiliki pengaruh antara lain: (1) secara ekonomis, setelah beberapa kali belanja akan lebih murah untuk membawa tas belanja sendiri ketimbang membeli kantong plastik, (2) secara psikologis, konsumen akan berfikir dulu sebelum menggunakan kantong plastik apabila petugas kasir bertanya, “apakah Anda perlu beli kantong plastik?”

Hasil riset Greeneration Indonesia pada tahun 2009 menyatakan bahwa masyarakat akan membawa kantong belanja sendiri bila: (1) toko tidak menyediakan kantong plastik lagi (33%), (2) kantong plastik tidak gratis (30%), (3) ada ‘reward’ yang diberikan jika membawa kantong belanja sendiri (13%), (4) dan lain-lain.

Perlu diingat bahwa setiap produk yang dijual di supermarket sudah terkemas dalam kemasan higienis masing-masing. Oleh karena itu sama sekali tidak ada keharusan menggunakan kantong plastik untuk membawa belanjaan pulang ke rumah. Cukup memakai tas belanja sendiri yang dapat digunakan kembali – Bring Your Own Bag!

Kami meminta agar Presiden, Gubernur, dan Kepala Daerah di seluruh Indonesia untuk membuat Peraturan Daerah Pengurangan Penggunaan Kantong Plastik, sebagai pelaksanaan dari Peraturan Pemerintah No. 81 tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah. Selain mengatur pengelolaan sampah plastik yang baik, diperlukan adanya Peraturan yang mengurangi dan mencegah dipakai kantong plastik dengan cara STOP MEMBERIKAN KANTONG PLASTIK GRATIS.

Dengan peraturan yang tepat, kebiasaan konsumen dapat diubah untuk beralih menggunakan tas belanja yang dapat digunakan kembali.

Bergabunglah menjadi relawan Diet Kantong Plastik dengan mendaftarkan diri ke website ini: http://www.indorelawan.org/organization/view/34

Mempetisi ke
Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama
Presiden Republik Indonesia Joko Widodo
Ketua Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia Dr. G. S. Vicky Lumentut, M.Si., DEA. (Walikota Manad)
PRESIDEN DAN GUBERNUR, BUATKAN PERATURAN DIET KANTONG PLASTIK!

Dibuang Sayang, Dipakai Tidak Bisa-Menghasilkan Uang dari Sampah

By Emily Young
BBC News

Originally post http://www.bbc.com/news/business-31036601?fb_ref=Default

Tom Szaky berbicara untuk 19 lusin lainnya. Seolah-olah dia tidak ingin menyia-nyiakan satu menit dari satu jam wawancara yang saya miliki dengannya.
Tapi kemudian, sampah adalah pokok bahasan yang menyentuh hatinya. Dia adalah pendiri dan kepala eksekutif dari perusahaan sosial TerraCycle, sebuah perusahaan yang memiliki tujuan untuk menghilangkan keberadaan sampah.

“ini adalah Ide yang besar saya tahu,” ujarnya, namun sejauh ini berjalan baik-baik saja.

Dalam 13 tahun, basis- AS Terracycle telah berkembang dari awal yang klasik menjalankan operasi bawah tanah di 21 negara. Tahun lalu pendapatannya mencapai $20m (Rp. 240 miliar) dan memiliki 115 karyawan.

Model Bisnis dari perusahaan ini yaitu mencari sampah dan mengubahnya menjadi sesuatu yang berguna, sebagai keuntungan. Mereka mengumpulkan segala hal yang pada umumnya diketahui sulit untuk di daur ulang- contohnya seperti putung rokok, kapsul kopi, atau pembungkus biscuit- dan mencari cara untuk menggunakan kembali bahan-bahan tersebut.

Quote
“Saya ingin menghasilkan banyak uang dengan melaukan hal yang baik” Tom Szaky

TerraCycle
Hal itu terlaksanakan terutama melalui proses pengolahan bahan-bahan yang mereka miliki dan menjual bahan tersebut ke pabrik, dan mengembangkan yang rendah dengan mengubahnya menjadi suatu produk-produk seperti tas, bangku ataupun tempat sampah.

Mereka mengandalkan kontrak dengan pebisnis- seperti McVities, Johnson & Johnson dan Kenco- yang mereka membayar TerraCYcle untuk membawa sampah mereka, layaknya seperti konsumen individual mereka mengumpulkan dan mengirimkannya, sebagai gantinya sebagai sumbangan donasi sebagai pilihan mereka.

Pengalaman Orang Hungaria
Dengan rambut berantakan, jeans dan baju lengan panjang, tom, 33 tahun, adalah ciri khas dari generasi pengusaha muda yang menghindari formaitas.

Namun dia melangkah satu tahap lebih lanjut- dia menggunakan jeans yang sama setiap hari dalam satu tahun (kecuali untuk akhir pekan ketika mereka dicuci) sebagai salah satu usaha untuk menggunakan lebih sedikit.

Lahir dalam komunitas Hungaria, Tom meninggalkan negaranya dengan kedua orang tuanya pada umur 4 tahun, dan berakhir di Canada, melalui Belanda, pada umur 10 tahun. Dia mengatakan bahwa keseluruhan model bisninya terlahir dari pengalaman yang ia miliki terhadap 2 sistem ekonomi yang berbeda.

Kantor Terracycle di AS menggunakan botol daur ulang sebagai dinding pembatas.
Kantor Terracycle di AS menggunakan botol daur ulang sebagai dinding pembatas.
Sebagian besar dari kantor memiliki wujud graffiti pada dinding bangunan.
Sebagian besar dari kantor memiliki wujud graffiti pada dinding bangunan.
Kantor Terracycle pada umumnya merupakan bagian yang kurang kaya dari kota.
Kantor Terracycle pada umumnya merupakan bagian yang kurang kaya dari kota.

“Dulu di Hungaria, anda memerlukan surat ijin untuk memiliki satu set TV,” Tom menjelaskan.

Anda tidak bisa pergi begitu saja dan membeli TV, malahan, setelah mengajukan surat ijin memiliki TV mungkin satu tahun kemudian kamu akan mendapatkan TV hitam putih, dan mendapatkan satu chanel resmi Negara.

Tom mengatakan: “hanya beberapa tahun kemudian kami berakhir di kanada yang mana setiap hari jumat ayahku dan aku akan berkeliling dan melihat tumpukan TV menggunung yang telah dibuang dari setiap apartemen.

“kamu mengambil beberapa hanya untuk bersenang-senang- karena kami berfikir ‘siapa yang mau membuang TV?’ dan semuanya masih berfungsi dan semuanya berwarna!”

kemudian, dia menambahkan, menjadikan dirinya berfikir tentang konsep dari limbah. Pada saat yang bersamaan, dia sangat terkesan dan terinspirasi oleh seorang pengusaha yang ia temui di Canada (keluarga temannya), dan dia memutuskan untuk ingin menjalankan sebuah bisnis.

Perkembangan Keuntungan
Terracycle telah berdiri dari tahun 2002 setelah Tom, 19 thn, dikeluarkan dari Princenton University di New Jersey untuk membangun ide yang ia miliki- hal tersebut sangat mengecewakan orang tuanya, yang sangat mempercayai bahwa begitu pentingnya pendidikan Tom.

“ya, (hal tersebut) salah satu momen ketika seorang anak memberitahukan orang tuanya bahwa ini adalah Hidup sata, dan saya berharap dapat melakukannya seperti yang saya inginkan. Suatu momen terobosan pada saat itu,” ia mengakui.

Produk pertama yang TerraCycle buat adalah pupuk organic yang dibuat dari “kotoran cacing” dalam waktu 5 tahun, perusahaannya dapat menjual sekitar $3m sampai $4m (sekitar Rp. 36 miliar sampai $48 miliar), tetapi membuat kerugian. Pada saat itu Kemudian Tom menyadari bahwa pendekatannya telah salah.

Perusahaan yang bekerja sama dengan TerraCycle
Perusahaan yang bekerja sama dengan TerraCycle

Kemudian Tom menyadari bahwa pendekatannya telah salah.
“kami mencoba hal baru dengan membuat sebuah produk dan kemudian menemukan type terbaik dari sampah untuk membuatnya.

“setelah lima tahun bergelut dalam dunia bisnis kami secara total memutar segalanya,” ujarnya. “ sebelum memulai pertanyaan tentang produk, kami berkata ayo kita mulai dengan sampah… kami perlu mengatasi kantong biscuit, putung rokok dan sebagainya.”

Tanpa realisasi tersebut, dia menghitung bahwa Terracycle tidak akan pernah mendapatkan keuntungan. Dan perusahaannya mempercayai pada keuntungan.

“ banyak dari pengusaha muda yang berfikir anda bisa melakukan sesuatu yang baik bagi dunia dan tidak mendapatkan apapun, atau anda bisa melakukan sesuatu yang negative dan dapat menghasilkan banyak uang.
“saya tidak memilih keudanya—saya ingin menghasilkan banyak uang dengan melakukan hal yang baik.
“Orang-orang juga termotivasi oleh dirinya sendiri. jika saya menjual perusahaan ini saya akan menghasilkan jutaan dan itulah motivasi manusia.

“saya sangat menginginkan untuk mejalankan kehidupan saya dengan cara ini, tapi faktanya saya bisa mendapatkan puluhan dari jutaan—itu adalah positive, saya tidak akan mengatakan bahwa saya merasa tidak enak tentang itu.”

Fakta TerraCycle

Didirikan di US pada tahun 2002
Diresmikan di UK pada tahun 2009
Telah mencegah 2,5 miliar potongan sampah yang menuju TPA
Menyumbang lebih dari $6m (sekitar Rp. 72miliar) untuk amal dan sekolah.
Menghasilkan uang dari perusahaan daur ulang sampah, dan menjualnya kepada pabrik-pabrik.
Dan juga menawarkan untuk memberikan sumbangan ketika konsumen secara individu mengirimkan barang-barang daur ulang.
Putung rokok yang dikumpulkan diubah menjadi palet plastic.

Tom menyebut perusahaan sosialnya sebagai sebuah pertemuan dari komunisme dan kapitalis. Sebagai kepala eksekutif, dia hanya dapat menghasilkan 7x dari gaji terendah karyawannya. ( “7X” seperti yang ia jelaskan) Dan segala hal tentang bisnisnya secara penuh bersifat transparan, dia mengatakan, jadi, setiap karyawan mendapatkan laporan yang sama seperti yang ia dapatkan dalam perkembangan perusahaan.

TerraCycle menyediakan tempat sampah lokal untuk daur ulang.
TerraCycle menyediakan tempat sampah lokal untuk daur ulang.

Perusahaan ini memiliki rencana terbuka, dan biasanya berdasarkan kepada bagian yang termurah dari kota—Di US salah satu nya berpusat di Trenton, New Jersey, dan di UK berpusat di Perivale, London bagian Barat.

Sebagai salah satu bagian dari pengembangan perusahaan kreatif, ia bahkan memiliki salah satu reality show di TV—sebuah kutipan yang menampilkan produser meminta Tom apakah dia bisa “berhenti berbicara dalam gigitan suara”. Dia bukan apa apa jika dia tidak baik dalam PR.

Tantangan kedepannya bagi TerraCyle, dia menyatakan yang paling utama adalah menjaga perusahaan besar tetap bergabung.

“ ini tentang organisasi yang mempertahankan keinginan mereka disekitar ini (TerraCycle recycling) program, karena setiap orang ingin hal baru selanjutnya,” kata tom.
Sebagai salah satu konsumen individual yang mengirimkan barang untuk di daur ulang, dia menunjukan bahwa mereka tidak mendapatkan apa apa secara nyata sebgai imabalan dari pelayanan mereka.
“anda membeli perasaan yang baik – jadi itu merupakan produk pelayanan yang sulit untuk dijual. Ada keterbatasan fisik untuk membayar kembali. Ini tidak sama seperti membeli kopi atau tas ransel. Kamu menjual sesuatu yang esoteric.”

Esoterik itu mungkin, tetapi investor banyak yang tertarik – tom sedang dalam pembicaran untuk menjual saham sebesar 20% dengan perusahaan inggris yang tidak disebutkan namanya sekitar $20m ( Rp. 240miliar)

Perkembangan gerakan Bye Bye Plastic Bag

Isabel dan Melati dari Bye Bye Plastic Bag bersama Ketua Eco Club Klungkung Gita dan Reny, Komang dari Universitas Udayana, Puji dari Keep Bali Beautiful dan Lucas dari DASH
Isabel dan Melati dari Bye Bye Plastic Bag bersama Ketua Eco Club Klungkung Gita dan Reny, Komang dari Universitas Udayana, Puji dari Keep Bali Beautiful dan Lucas dari DASH

Anak-anak Bye Bye Plastic Bag (BBPB) menjalankan sebuah organisasi dengan misi yang sangat besar yaitu melarang kantong plastic di Bali yang dilaksanakan dengan berkoalisi bersama lebih dari 100 organisasi (termasuk Keep Bali Beautiful) dan secara individual membantu usaha yang mereka lakukan pada saat pertemuan minggu lalu.

Bye Bye Plastic Bag Logo
Bye Bye Plastic Bag Logo

Koalisasi BBPB akan memfokuskan kepada Pendidikan sekolah, Bisnis dan Desa di seluruh pulau tentang permasalahan kantong plastic dan penyebab polusi lainnya bagi masyarakat Bali, dan apa yang mereka dapat lakukan untuk memperbaiki hal tersebut.

Saat di pertemuan koalisi BBPB
Saat di pertemuan koalisi BBPB

Mereka akan mengadakan sebuah kampanye, memberikan penghargaan kepada pebisnis yang berjanji untuk bebas dari plastic, menyebarkan pesan mereka kepada media pemberitaan dan melanjutkan kampanye mereka untuk mendapatkan satu juta tandatangan untuk melarang kantong plastic.

Jika anda ingin untuk menandatangani petisi untuk menjadikan Bali terbebas dari kantong plastik, silahkan klik disini. Atau jika anda ingin menjadi relawan untuk bergabung dalam kampanye untuk Keep Bali Beautiful silahkan klik disini.

Keep Bali Beautiful Logo
Keep Bali Beautiful Logo

Institut Hindu Dharma berjanji untuk Menjaga Bali tetap Indah.

Mahasiswa IHDN Denpasar dan Dave  berjanji untuk menjaga Bali tetap Indah
Mahasiswa IHDN Denpasar dan Dave berjanji untuk menjaga Bali tetap Indah

Selama diklat kepemimpinan, sekitar 100 mahasiswa dari Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar berjanji bahwa mereka sendiri akan bertanggung jawab untuk memecahkan masalah polusi plastic di Bali. Mereka akan membantu membuat Eco Club di Institut Hindu Dharma untuk mendaur ulang sampah dan menjaga kampus mereka indah.

Para mahasiswa ini sangatlah antusias, pandai dan berjiwa kepemimpinan. Komitmen mereka untuk membersihkan pulau mereka merupakan langkah pertama untuk melangkah kedepan. Ini merupakan salah satu strategi untuk membantu memfasilitasi anak muda dengan alat-alat dan infrastruktur untuk membantu mereka mencapai tujuan mereka.